Programa dan Resensi

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
Kunstkring, tertanggal 1928          Print Version/Afdruk Versie

Laporan tentang konser ketiga yang menampilkan Cecilia Hansen. Turne Cicilia Hansen berakhir sudah. Tadi malam dia minta diri dari Weltevreden (Batavia) dengan mengadakan konser, yang sebagai keseluruhan terdengar lebih mantap daripada kedua konser sebelumnya, dan yang pasti lebih bagus daripada yang pertama.
Hanya dalam Concerto karya Tschaikowsky, kami mengharapkan permainan yang lebih bagus. Musik itu dimainkan seperti sudah sering dimainkan orang,


Yaitu dengan cara yang akhirnya menyebabkan bahwa Concerto ini mendapat penilaian sebagai ‘’rongga yang kosong’’. Tadi malam teknik bermainnya terdengar terlalu menonjol, dan kemudian muncul bagian-bagian yang membuat kami bertanya, untuk apa dia berlari-larian terus di atas biolanya?  Tetapi di samping itu violis ini bermain bagus juga (permainan Canzonettanya prima). Namun passage yang sangat mudah, yang dimainkan pada dawai-G, dihidangkan seolah-olah sangat berbobot. Secara keseluruhan, permainannya jauh lebih rendah mutunya daripada permainan Moquilesky. Kami sangat menyesalkan mengapa violis klas satu itu (Moquilesky) hanya memberi sebuah recital, dibandingkan dengan ketiga konser yang dipagelarkan oleh Cecilia Hanser. Perbandingan itu sungguh pincang. Nama karya Tsaikowsky menghiasai halaman programa di antara dua penggubah Italia: Vitali (Chaconne) dan Corelli (la Folia). Dalam pagelaran  ini Cecilia Hansen mencapai prestasi yang jauh lebih besar daripada ketika dia memainkan
 Pugnani dan Vivaldi. Chaconne karya Vitali telah dimainkannya dengan kuat dan anggun, kecuali beberapa ketidakjelasan dalam irama.
 Mengenai ‘’la Folia,’’  sang violis telah memilih pengolahan Kreisler, dan pilihannya memang benar. Sebab Kreisler bukan saja mampu mengolah musik untuk biola yang sangat pribadi, tetapi dia telah pula membuat musik iringan yang indah, yang menonjolkan keindahan instrumen gesek itu. Musik basnya bisa dikatakan membentuk latarbelakang dari kain beludru yang gelap dan hangat, di atas mana karya Cirelli yang tanpa cacat itu terletak sebagai batu mulia yang sangat berharga.
Kemudian menyusul karya Kreisler: Recitativo dan Scherzo untuk biola saja.
Dan betapa pun kami mengagumi usaha Cecilia untuk memperhalus musik itu, kami tetap berpendapat bahwa dia kurang mampu membawakannya. Musik  yang mengandung cinta Kreisler untuk karya-karya Italia kuno dan musik wals Wina, telah digubah oleh Kreisler untuk dirinya sendiri. Jadi, kalau orang sudah pernah mendengar musik itu dimainkan sendiri olehnya dengan ‘’dubbelgrepen’’ yang  seakan-akan bernyanyi dengan hangat dan penuh kerinduan, serta ‘’triller-triller’’ yang  sangat indah dan sempurna dalam Recitativo, dan caranya menggerakkan tongkat biolanya yang ringan seperti kapas, maka si pendengar itu menyadari bahwa Cecilia Hansen belum sepenuhnya mengeksploitasi segala kemungkinan dalam bermain biola.
Sebuah dansa Hongaria dalam musik Joachim karya Brahms dan Poupee Val-Sante karya Podini-Kreisler ( di mana menurut kami pianis Boris Zahkaroff dapat bermain lebih jelas dengan tangan kanannya), ternyata dikuasai sepenuhnya oleh violis itu. Dalam memainkan ‘’Rondo des Lutins’’ karya Bazzini, dia kurang beruntung, tetapi banyak pemain ulung pernah mengalami nasib yang sama. Dalam musik gubahan Tchaikowsky pianisnya tidak begitu  ketat mengikuti sang

 violis, dan sering variasi-variasinya dihilangkan begitu saja. Untunglah iringan ‘’la Folia’’ yang sangat seimbang memperbaiki suasana.
Tepuk tangan meriah dan beberapa buket bunga dipersembahkan kepada sang violis sebagai imbalan jerih payahnya. Lalu yang bersangkutan menyatakan terima kasihnya dengan memainkan musik tambahan yang diwarnai musik  Moor, yang tidak kami ketahui penggubahnya.

DE  W. +

Print Version/Afdruk Versie