Gedung-gedung Kesenian

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
Concordia dan orkes-orkes lain          Print Version/Afdruk Versie

Sebuah tonggak penting dalam sejarah Concordia ialah ketika Nico J. Gerharz, yang dikirim ke Hindia Belanda sebagai pembantu letnan-pemimpin korps musik, diangkat menjadi dirigen kelompok musik resimen. Di bawah bimbingannya orkes dalam kelompok itu berhasil mencapai tingkat yang sangat tinggi. Sebelum kedatangannya, orkes itu hanya memainkan musik dansa, improvisasi untuk opera dan parafrase. Tetapi Gerharz dengan tegas menghentikan kebiasaan itu dan menyuruh orkes itu memainkan musik yang khusus digubah untuk orkes. Dia menampilkan juga beberapa solis.  Pada tahun 1905 dia mulai memperdengarkan konser-konser simfoni, yang dapat dikata telah membawa perubahan total dalam kehidupan musik di ibukota, dan pada akhirnya mengangkat kelompok musik resimen itu ke tingkat yang begitu tinggi sehingga dapat menandingi orkes-orkes kondang di Eropa.


Lambat laun orkes itu mahir memainkan karya-karya besar seperti Carnaval
Romain gubahan Hector Berlioz, Impressions d’Italie gubahan Charpentier,
Symphonie Pathetique karya Tsjaikovski, Aus der neuen Welt karya Dvorak dan Sheherazade karya Rimsky-Korsakoff. Konser-konser ini telah ikut mengharumkan nama Concordia. Sebab itu semua penggemar musik di Batavia menjadi anggota sositet itu.
Konser-konser itu diadakan sekali setiap bulan, dan orang-orang berebut
untuk dapat memperoleh tempat yang baik. Pada malam pementasannya, tidak ada satu kursipun yang kosong. Menurut penuturan Victor Ido, celakalah orang yang pada saat konser dimulai, masih minum seteguk wiski atau ingin  mengobrol. Sang dirigen akan memandangnya dengan sangat tajam di depan mata segenap penonton. Nasib yang lebih buruk menimpa orang yang datang terlambat, sebab dia terpaksa berdiri sambil menunggu selesainya bagian musik itu. Soalnya, kalau dia mencari tempatnya, pasti timbul bunyi berisik yang akan mengganggu.


Pada tahun 1916 Gerharz pulang ke Eropa, dan di sana dia meraih banyak
penghargaan di bidang musik. Tetapi dapat disayangkan bahwa setelah
keberangkatannya, kelompok Musik Resimen itu gagal mempertahankan
nama harumnya. Rupa-rupanya para pengganti Gerharz tidak mampu menjaga mutu permainan orkes itu yang telah diraih oleh Gerharz. Dan pada akhirnya, hal itu, ditambah dengan beberapa kejadian lain, mengakibatkan bahwa orkes itu dibubarkan pada tahun 1931.
Gerharz, yang berkat pimpinannya yang prima telah memberi begitu banyak
keindahan kepada kaum penggemar musik di Batavia, meninggal di Bandung
pada 13 November 1939 dalam usia 67 tahun.

· Dalam tahun 1880 sampai 1886 Korps Musik Resimen di Batavia dipimpin oleh Johannes Seelig, ayahanda komponis Paul Seelig (Breda 1876– 1945), dan dia meninggal di daerah Meester Cornelis.   
Print Version/Afdruk Versie