Encores atau links

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
My many years (Pengalamanku selama bertahun-tahun)          Print Version/Afdruk Versie

Besoknya kami berlayar ke Batavia, dan di sana kami menginap di Hotel des
Indes, nama yang tepat untuk tempat yang indah itu. Untuk makan siang dan
makan malam kami disuguhi nasi dengan sekitar 20 lauk pauk, yang disajikan
dalam porsi-porsi kecil - potongan-potongan ikan dan daging, sayuran yang
belum kami kenal, yang diiris halus, dan juga jenis makanan lain.
Terus terang, sebetulnya yang menarik perhatian kami bukan terutama rasa
lezat makanan itu, tetapi lebih-lebih cara menghidangkannya yang khusus.
Ke-20 lauk pauk itu diantarkan ke meja kami oleh iring-iringan 20 pelayan yang berpakaian seragam batik, dan upacara itu diulangi beberapa kali.

Seandainya cuacanya tidak begitu panas, maka rasanya seakan-akan ketiga
pagelaran di Batavia itu berlangsung di Belanda.

Nela mengeluh merasa nyeri, dan hal itu mencemaskan kami berdua.
Ketika aku tampil dalam konser di Bandung, ibukota Jawa bagi orang Belanda, seorang dokter warga Austria berjanji akan merawat Nela dalam kliniknya.

Aku merasa sedih untuk meninggalkan dia di situ seorang diri selama aku
sendiri mengadakan tiga atau empat konser secara berturut-turut. Tetapi
untunglah, aku berhasil menemukan pesawat terbang kecil yang mengantarkan aku setiap pagi ke klinik itu untuk menjenguknya. Puji Tuhan, beberapa hari kemudian dia sembuh, dan kami dapat melanjutkan turne itu bersama-sama.

Pada suatu siang sebelum konser dimulai, kami sampai di sebuah kota kecil.
Setelah kami mendaftarkan diri dalam hotel bersih yang dikelola orang Belanda, aku bertanya di mana letak teater tempat konserku akan berlangsung.
Resepsionis hotel itu menjawab, ''Konsernya diadakan di sini, di hotel ini.''
''Apakah ada ruangan dansa besar di sini?'' tanyaku.
''Tidak,'' jawabnya lagi. ''Konser itu akan diadakan di sini, di lobi ini.''
Aku tersenyum karena mengira bahwa dia tak mengerti apa yang kumaksudkan.
Lalu aku mengatakan ''Itu tidak mungkin, di tempat ini hanya ada tempat untuk tidak lebih dari 50 orang.''

Tanpa membalas senyumku ia menjawab, ''Oh, yang datang tidak akan lebih
dari 20 orang.''
Karena dia melihat bahwa aku tidak percaya kepadanya, dia menjelaskan dengan singkat bagaimana keadaan sebenarnya. Ternyata empat keluarga yang mengelola beberapa perkebunan teh di sekitar kota itu begitu mencintai musik, sehingga mereka memutuskan untuk bersama-sama menanggung seluruh biaya untuk penyelenggaraan semua konser Perkumpulan Kesenian. Aku senang sekali mendengar itu. Ke-16 orang yang datang untuk menghadiri konserku memperoleh konser terbaik dari seluruh turneku di Jawa. Biasanya, pada awal konser dalam ruangan konser besar yang penuh sesak penonton, aku harus berusaha sekuat tenaga untuk dapat menangkap perhatian penonton, dan kalau nasibku sedang baik dan aku bermain penuh inspirasi, perhatian itu memang dapat kuraih. Tetapi dalam hal ini, di ruang konser yang kecil ini, para penonton yang hanya sedikit itulah yang mengilhami aku, sehingga kuberikan apa yang terbaik kepada mereka. Sesudah konser usai, ada pertemuan kecil, dan dalam kesempatan itu sepasang suami-istri mengundang kami dengan ramah untuk menghabiskan hari berikutnya di rumah mereka di tengah-tengah perkebunan teh. Nela, yang lahir di daerah peternakan dan pertanian, tetap menyukai lingkungan seperti itu, sehingga dengan senang hati dia menerima baik undangan itu.

Karena besoknya kami bebas tugas, pagi-pagi kami diantarkan ke tempat
perkebunan itu melalui jalan yang mendaki. Rumah yang kami tuju sangat elok, dibangun dengan gaya Belanda, lengkap dengan segala ciri-cirinya yang khas.
Jendela-jendelanya jelas baru saja dicuci bersih, dan segala-galanya rapi dan
menyenangkan, tetapi yang paling mengesankan ialah minuman tehnya!

Aku memang sangat gemar minum teh yang enak, yang warnya tidak
terlalu gelap. Kami minum teh seperti itu di Polandia, yang dihidangkan dalam gelas-gelas berleher panjang, dan diberi seiris jeruk. Aku dapat minum teh seperti itu bergelas-gelas banyaknya dan secara berturut-turut, bahkan sampai selusin gelas. Aku suka minum teh sore hari di Inggris, tetapi sama sekali tidak tertarik kepada asal usul teh itu. Tetapi di sini, di perkebunan teh di Jawa, aku sungguh terkesan oleh kelezatan minuman itu, mulai dari tegukan pertama dari secangkir teh yang disuguhkan kepadaku. Sejak saat itu aku terus memohon kepada tuan dan nyonya rumah supaya cangkirku terus diisi lagi.
Pada waktu bermain bridge sesudah makan siang, aku sudah minum kira-kira  selusin cangkir teh. Bagiku teh itu lebih lezat daripada minuman para dewa.
Percayalah, belum pernah minuman lain, entah itu alkohol, kopi, coklat atau
bahkan susu, memberi kepuasan yang begitu sempurna kepadaku, Nela juga
sangat antusias, tetapi dia begitu bangga atas pengetahuannya yang banyak
tentang penyebab mengapa teh di perkebunan itu jauh lebih bermutu daripada teh yang biasanya kami minum, sehingga hal itu baginya lebih penting daripada kenikmatannya sendiri. Malam itu kami pulang ke hotel dan merasa terpesona oleh hari indah yang kami habiskan di tengah-tengah bukit-bukit teh itu.

Turne itu berjalan cepat, tanpa ada hari hari yang membosankan. Setiap kota mempunyai ciri-ciri khasnya sendiri. Di salah satu kota, Nela mengeluarkan pakaian konserku dari kopor, dan menggantungkan jas hitamku yang khusus itru dengan sebuah gantungan  baju pada kapstok.
Menjelang keberangkatan kami ke gedung konser, Nela mengambil jasku itu, tetapi alangkah terkejutnya kami berdua ketika dari jas itu beterbangan beribu-ribu nyamuk! Mereka memenuhi seluruh kamar dengan bunyi berdengung. Kami merasa sangat jijik dan memukul-mukul nyamuk itu dengan apa saja yang dapat kami temukan. Sampai sekarang aku masih heran bahwa kami berdua tidak habis dimakan oleh serangga-serangga yang mengerikan itu! Tetapi kami telah berhasil mengalahkan mereka.

Kota yang berikut adalah yang paling panas dari semuanya: Surabaya, kota
terbesar kedua di pulau Jawa. Di sini tempat tidur kami diselubungi dengan
kelambu halus. Setelah mengenakan baju tidur, kami berbaring dengan
maksud beristirahat dengan tenang karena yakin bahwa kami terlindung dengan baik. Tetapi kami terkejut lagi. Soalnya, sejumlah serangga besar yang tidak kami kenal, yang mirip binatang buas, mengancam akan merusak kelambu kami, karena dengan keras mereka memukul-mukul kain halus itu, sambil mengeluarkan bunyi-bunyi yang menakutkan. Kami harus memberanikan diri untuk bangun keesokan harinya untuk melakukan segala tugas yang harus dilakukan menjelang pagelaran konser.

Tetapi untunglah kami dapat menikmati rekreasi artisitk yang tidak terduga.
Tidak terlalu jauh dari Surabaya, yaitu di Yogyakarta, bertaktalah seorang  sultan Ketika aku bertanya dengan heran mengenai keberadaan itu, seorang amtenar Belanda menjawab, ''Pemerintah kita menentukan bahwa  Beliau selalu berada di keratonnya, tetapi kantor gubernur jenderal Belanda
terletak di sana, di seberang alun-alun.''

         Aku bertanya: ''Apakah Beliau bergaul dengan gubernur secara bersahabat?''
         ''Oh ya,'' jawab amtenar itu. ''Beliau menyebutnya 'Paman'.''

 Waktu berada di Yokyakarta pada hari Pesta Natinal jawa, kami beruntung skali karena pada hari itu Gamelan Kesultanan diijinkan bermain di depan keraton. Aku ingin sekali melihat pertunjukan itu, lalu menggabungkan diri dengan ribuan pencinta jenis musik itu yang sudah berkumpul di tempat itu. Satu-satunya hal yang kuketahui mengenai jenis musik itu ialah bahwa dalam Pameran Dunia yang terakhir di Paris, diperdengarkan juga Gamelan Bali, musik itu telah meninggalkan kesan mendalam pada Debussy, Ravel dan sejumlah pemusik lain yang berkesempatan mendengarnya. Aku sendiri terpesona oleh bunyi asing dan baru itu, yang hanya dapat kuhayati semata-mata sebagai musik
dalam artian: urut-urutan bermacam-macam nada secara teratur dan dengan
persiapan yang matang. Aku paham betul mengapa musik ini menggugah daya khayal para komponis tadi.

Untungnya kota terakhir, Malang, yang terletak di tengah-tengah pegunungan
di Jawa Timur, cuacanya tidak begitu panas. Dan akhirnya turne kami
berakhir di Batavia. Aku mendapat bayaran yang cukup tinggi dalam mata uang Belanda yang kuat.  Rencananya ialah bahwa sesudah Indonesia, kami dan Strok akan mengadakan pertunjukan di Manila, Filipina. Waktu itu baru awal bulan Juli, dan dengan senang hati aku menyadari masih ada waktu libur
beberapa hari bagi kami sebelum kami naik kapal menuju Hongkong. Di situ
kira-kira satu atau dua hari kemudian sebuah kapal Amerika akan mengantarkan kami ke Manila. Baik Nela maupun aku sangat senang mendapat kesempatan untuk mengunjungi pulau Bali. Soalnya, kami telah mendangar banyak hal-hal yang mengagumkan tentang pulau itu. Ketika kami berada di Singapura, aku sudah menceritakan dengan antusias bahwa kami mungkin akan pergi ke Bali. ''Wah, itu hebat,'' seru Noel. ''Aku akan segera mengirim telegram kepada temanku Smith;
dia akan memperlihatkan semuanya kepada kalian dengan cara yang sungguh menyenangkan.''

Di antara Jawa dan Bali ada hubungan pesawat terbang, dan aku berhasil
mendapat dua tiket untuk penerbangan yang berikut. Teman seperjalanan

kami adalah dua warga Amerika yang ramah.  Mereka adalah Doris Duke,
pewaris perusahaan tembakau yang kaya, dan suaminya. pria tampan dengan
latar belakang Eropa. Kedua orang muda itu sedang menikmati bulan
madu mereka. Kami berempat langsung bercakap-cakap dengan akrab, karena ternyata mereka berdua hadir dalam konserku di Singapura.

Aku teringat kepada suatu saat yang mengerikan dalam penerbangan itu.
Sang pilot, yang ingin memperlihatkan kepada kami betapa indahnya pulau itu, terbang agak rendah. Kami berempat duduk dekat jendela untuk mengagumi pemandangan Bali. Bayangkan rasa takut kami ketika lurus di bawah kami, tampak menganga sebuah kawah gunung api raksasa, yang menyemburkan api tinggi-tinggi, sampai hampir menyentuh pesawat kami. Serentak kami menjerit. Untunglah, tidak terjadi apa-apa, tetapi orang Amerika itu langsung menuju ruang pilot untuk protes keras. Sang pilot menjawab bahwa dia ingin menyenangkan
kami dengan memperlihatkan dari dekat sebuah gunung berapi yang aktif. Tidak lama kemudian kami mendarat di lapangan terbang kecil di pulau yang
mempesonakan itu, dan memang pesona itu langsung kami rasakan. Kami turun dengan tenang dari pesawat itu, dan rasanya seakan-akan kami turun dari helikopter dan sampai di tengah-tengah suatu daerah. Di depan kami
membentang sebuah jalan yang sunyi,  kedua sisinya dipagari deretan pepohonan yang tinggi. Tetapi tiba-tiba, entah dari mana, muncul iring-iringan wanita muda dan langsing, masing-masing menyunggi berbagai sesajen yang
terdiri dari buah-buahan yang tersusun rapi. Mereka berjalan perlahan di depan  kami, penuh keanggunan. Kain panjang yang melilit tubuh mereka berwarna-warni dan tampak masih baru, tetapi tubuh bagian atasnya mereka biarkan terbuka. Dan tiba-tiba mereka menghilang di sebuah tikungan, seakan-akan kami baru saja bermimpi. Kami diberitahu bahwa iring-iringan seperti itu terjadi setiap hari, sebagai ritus agama, suatu yang dilaksanakan  menurut versi mereka sendiri.

Seorang pemuda jangkung berambut pirang datang menemui kami dan memperkenalkan diri: ''Namaku Smith. Temanku Noel telah mengirim telegram dengan permintaan supaya aku mau memperlihatkan pulau ini kepada kalian.
Dengan senang hati aku akan melakukannya.''
Terus terang, aku betul-betul tidak mengira bahwa Noel telah berbicara serius waktu di Singapura dan aku sungguh senang bahwa dia menepati janjinya. Kami diantarkan oleh Smith ke hotel kecil yang tampak bersih dan menarik. Ternyata rumah itu ialah tempat peristirahatan para pejabat Belanda.

Hari berikutnya kami pergunakan seluruhnya untuk menikmati musik dan tari-tarian Bali. Aku memperkenalkan kedua teman seperjalanan dari Amerika itu kepada Smith, dan dia tidak keberatan bahwa mereka tetap menemani kami.
Smith telah memungkinkan kami untuk melihat segala-galanya. Berkat dia,
kami dapat menonton pertunjukan yang indah sekali, yang sampai sekarang
masih kuingat dengan jelas. Di antara para penari terdapat seorang bocah
laki-laki yang usianya tidak lebih dari 10 tahun. Seluruh gerakan tangannya,
kakinya dan kepalanya berhubungan secara terpadu dengan liak-liuk tubuhnya. Tariannya sendiri menunjukkan kontras-kontras yang sungguh indah. Kadang-kadang dia meloncat-loncat kecil, dan sesudah itu dia bergerak sangat lamban.
Musik pengiringnya ialah Gamelan Bali, yang sangat erat hubungannya dengan Gamelan Jawa, tetapi memiliki beberapa instrumen perkusi tambahan. Sepanjang
hari kami melihat berbagai arak-arakan yang mirip iring-iringan di pagi hari,
tetapi warna-warnanya berbeda, dan isi sesajennya pun yang disunggi di atas
kepala, yang membuat para wanita itu berjalan dengan sangat anggun, berbeda pula. Kami heran bercampur senang bahwa cuaca di Bali terasa begitu nyaman, meskipun matahari bersinar terang.

Pada malam hari, Smith mengorganisir konser paduan-suara pria bagi kami.
Dua lusin pria berdiri berderet sambil berhadap-hadapan, lalu satu deretan mulai menyanyikan sebuah not yang sama bunyinya. Segera para pria di deretan yang lain menyanyikan not yang lebih tinggi setengah nada. Hal itu mereka ulangi
beberapa kali, lalu mereka mulai mempercepat temponya, dan akhirnya, setelah secara bergantian mereka menyanyikan not itu dengan sangat cepat, lagu itu berakhir dengan bunyi dua nada berturut-turut dengan amat kencang dan panjang.
Aku benar-benar kaget dan dibuat bingung oleh ke-12 penyanyi itu, yang
menyanyikan not-not yang dikomposisi dengan perasaan irama yang begitu sempurna. Saya kira itulah puncak dari kunjungan kami ke pulau yang sungguh molek itu.

Besoknya, Smith yang tidak kenal lelah itu mengajak kami mengendarai mobil untuk melihat-lihat pemandangan di pulau itu, dengan gunung-gunungnya yang hijau lembut, dengan gunung apinya yang menakutkan, dengan sawah-sawah dan hutan-hutannya yang hijau mempesona. Seluruh pemandangan alam di situ memiliki keindahan yang unik, yang belum pernah kulihat di mana pun dalam perjalanan-perjalananku  ke begitu banyak negara.

Arthur Rubinstein                    

Print Version/Afdruk Versie