Sticusa dan Erasmushuis

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
Erasmushuis          Print Version/Afdruk Versie

STICUSA 1948-1955 Stichting Culturele Samenwerking (Yayasan Kerja Sama Budaya)

O.K. dan W./ ERASMUS-HUIS Ned. Cult. centrum (Pusat Kebudayaan Belanda) 1966. Dubuka secara resmi sejak 1970 (oleh Pangeran Bernard)
(internet www.neth-embassy-jakarta.org/erasmus.htm
Dahulu bertempat di Jl. Menteng Raya 25. Sejak th. 1980  pindah ke Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said kav.3-6 Jakarta.
Para direkturnya sampai th. 1998 ialah: B. Vinkenborg, C. Strumphler,
R. Verstrijden, I.G. Roos, D. Korthals, Altes.
Direktur dewasa ini: Ny. Drs. G. Wolters (1998), adj. P.A. Hamoen.
Auditorium pusat kebudayaan ini menyediakan 320 tempat duduk (Lantai 2).
Biasanya tidak dipungut bayaran untuk menonton berbagai event di situ.
Goethe instituut juga mengadakan konser-konser di Erasmushuis.
Anggaran yang disediakan untuk segala kegiatannya, meliputi perpustakaan, meja bacaan, film, resital dll, berjumlah FL.100.000.
Pengutusan para artis pemain tunggal dan para dosen*., dalam kerjasama
dengan O.K.W / W.V.C.
Para pianis, gitaris, pemain seruling, penyanyi, pemain biola dan berbagai
ansambel. (Kursus-kursus tingkat sarjana) lihat daftar ++

Jakarta-Bandung-Yogyakarta-Surabaya-Semarang-Manado/Malang, Medan-Salatiga-Bali.
Onkos perjalanan dan penginapan gratis, penggantian ongkos harian.
Auditorium Jakarta, Karta Pusaka, Yogyakarta, Univeritas Salatiga.
Taman Ismail Marzuki (Jakarta) Sekolah Musik Medan dsb. dsb.
Para artis berikut ini diutus ke Indonesia sebagai  dosen untuk masa yang
cukup lama: Jos Bredie-gitar Yogya; Henk van Dijk- piano; Joost Flach-hobo; Rene Berman-celo;  Elena Szirmai dan Otmar Kramis/ Bali.
Turne-turne konser:
++ Martijn v.d. Hoek-piano; Dmitri Ferschtmann-celo dan Mila Balewskaya-piano;
Jan Vayne-piano, duet pemain gitar Belanda; Sonja van Lier-penyanyi;
trio Kegelstatt, Ronald Brautigam-piano.
Pieter Wispelwey-celo, David Little-clav.; Theo Olof-biola, Gerard van Blerk-piano,
lihat daftar++

Erasmus Huis adalah pusat kebudayaan Belanda di Jakarta. Dengan memfokuskan pada acara musik dan pameran, Erasmus Huis menjadi sebuah pusat kebudayaan yang aktif dan banyak dikunjungi. Di samping pagelaran musik klasik dan jazz, Erasmus Huis juga sering kali mengadakan pemutaran film dan ceramah.
Erasmus Huis bukan saja merupakan tempat untuk memperlihatkan kebudayaan Belanda, tetapi juga merupakan tempat untuk memperlihatkan karya seni dan budaya Indonesia. Setiap tahun banyak pemusik Indonesia tampil di auditorium Erasmus Huis. Selain itu, Erasmus Huis juga menjadi tempat diadakannya sejumlah kegiatan yang diselenggarakan oleh pusat kebudayaan asing lainnya. Sebagian besar acara di Erasmus Huis tidak dipungut bayaran.

PENASIHAT
Baik di Belanda maupun Indonesia terdapat ‘kelompok penasihat’ Erasmus Huis, sebuah kelompok yang dibentuk untuk memberikan masukan tentang kebijakan umum yang berkaitan dengan program kegiatan Erasmus Huis.
Anggota ‘kelompok penasihat’ di Indonesia terdiri dari: Jim Supangkat, kritikus seni; Gotot Prakosa dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta; P.H. Irianto, arsitek dan anggota Ikatan Arsitek Indonesia; Linda Hoemar, pakar di bidang seni pertunjukan; Mella Jaarsma, direktur Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta dan Bintang Prakarsa, kritikus musik.
Anggota ‘kelompok penasihat’ di Belanda terdiri dari: Lodewijk Wagenaar, kurator Amsterdam Historical Museum; Claudia Landsberger, direktur Holland Film; Rob Docter, directur Berlage Instituut; Reijn van der Lugt, pakar di bidang disain dan seni patung; Rudi Wester, directur Yayasan untuk Produksi dan Penterjemahan Sastra Belanda dan Henk Heuvelmans, direktur Gaudeamus.

SEJARAH SINGKAT
Kerja sama budaya dengan Indonesia menjadi prioritas utama dalam kebijakan budaya Belanda. Hal ini dapat dimaklumi mengingat ikatan sejarah yang dimiliki antara Indonesia dan Belanda serta komitmen antara kedua negara sehubungan dengan pelestarian warisan budaya bersama. Di samping itu, Indonesia menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah besar seniman muda dan kelompok di Belanda, sehingga menghasilkan sebuah program pertukaran seniman dan kelompok.
Itu menjadikan latar belakang didirikannya Erasmus Huis pada tahun 1970. Awalnya pusat kebudayaan ini, yang dibuka oleh Pangeran Bernhard, berlokasi di Jalan Menteng Raya 25. Namun kemudian jelas tampak bahwa dibutuhkan gedung yang lebih besar untuk menampung segala kegiatan. Pada tahun 1981, Erasmus Huis pindah ke Jalan Rasuna Said di Kuningan. Di lingkungan baru ini suatu konsep baru untuk acara dibuat – yang hingga kini masih digunakan – dengan bekerja sama erat dengan sejumlah lembaga budaya di Jakarta dan menjadikan Erasmus Huis sebuah pusat penting bagi iklim budaya di Jakarta dan sekitarnya.

PUSAT KEBUDAYAAN DI JAWA
Erasmus Huis bekerja sama dengan tiga pusat kebudayaan di pulau Jawa, yaitu 'Karta Pustaka' di Yogyakarta; 'Widya Mitra' di Semarang dan 'Yayasan Pendidikan dan Kebudayan Indonesia-Belanda' di Surabaya. Ketiga lembaga tersebut merupakan pusat kebudayaan yang independen yang menerima bantuan dari Kedutaan Besar Belanda untuk mempromosikan pertukaran budaya antara Indonesia dan Belanda dan untuk memperkenalkan budaya Belanda bekerja sama dengan Erasmus Huis.
Selain itu, Erasmus Huis juga menggelar konser dan pameran di Bandung antara lain bersama Institut Teknologi Bandung dan pusat kebudayaan Perancis Centre Culturel Français. Juga di Solo Erasmus Huis sering kali mengadakan kegiatan budaya.

 


Print Version/Afdruk Versie