Artis

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
Willem Noske          Print Version/Afdruk Versie

Willem Noske ialah seorang violis Belanda, yang belajar pada  Prof. Oscar Back dan Carl Flesch. Dalam usianya yang sangat muda dia sudah berhasil tampil di panggung sebagai pemain biola tunggal. Dia telah mengadakan turne juga di Eropa, Amerika Serikat, Indonesia dan Australia. Dia pernah juga menjabat pemimpin konser yang dipagelarkan oleh berbagai orkes, a.l. Orkes Residensi. Dia mengadakan juga penelitian terhadap musik Belanda antara 1600 dan 1830, dan sonata-biola Italia dalam abad ke-18.

 

Dalam turne yang diadakannya di kepulauan Indonesia, Noske bukan hanya menghibur tentara Belanda dengan permainan biolanya, tetapi dia juga mengadakan pagelaran-pagelaran yang dihadiri oleh banyak orang Indonesia. Selain itu dia mengadakan konser-konser sekolah, yang dihadiri oleh sekitar 20.000 murid dari macam-macam bangsa. Sering terjadi bahwa anak-anak yang belum pernah menghadiri konser, bersikap kurang tertib, sehingga mengganggu pertunjukan. Tetapi dengan bantuan para guru, lambat-laun mereka terbiasa dan bersikap sepatutnya dalam konser-konser seperti itu.
Yang menarik perhatian Noske ialah betapa spontannya  penduduk Indonesia menanggapi musik Barat. Meskipun orang-orang dewasa maupun anak-anak Indonesia itu belum pernah mendengar musik semacam itu, tetapi setelah sekali mendengarnya, mereka menunjukkan minat mereka. Khususnya jenis musik klasik yang romantis sangat mereka sukai.
Ketika di kemudian hari Noske ditanyai mengenai kehidupan konser di Indonesia, dia menjawab bahwa setelah perang usai, kehidupan konser itu mulai berkembang lagi, meskipun tekanan zaman masih agak terasa.

‘’Di banyak kota orang sudah mulai bermain musik lagi, meskipun dengan alat-alat musik yang sangat primitif. Pernah saya melihat seorang violis menggesek biolanya yang dawai-dawainya terbuat dari rotan, dan orang lain lagi meniup instrumen tiupnya yang bagian-bagiannya disambung-sambung dengan kawat. Saya mendengar adanya rencana untuk mengembangkan orkes di Surabaya
 menjadi orkes-simfoni yang besar. Saya yakin bahwa kalau rencana itu terwujud, hal itu akan sangat menstimulasi kehidupan musik pada umumnya. Selain itu saya menaruh harapan besar bahwa Batavia, karena letaknya yang geografis, akan menjadi pusat musik besar bagi budaya Barat dan Timur. Kita orang-orang Belanda, memikul tugas yang penting di bidang itu. Ingat saja kepada kenyataan bahwa seniman-seniman Barat yang lama tinggal di Bali telah banyak mempengaruhi seni lukis di Bali, begitu juga musik Barat dapat memberi pengaruh yang baik pada musik pribumi. Turne-turne saya menunjukkan bahwa penduduk Indonesia terbuka bagi pengaruh itu.’’

Print Version/Afdruk Versie