Artis

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
Walter Spies          Print Version/Afdruk Versie


Spies tidak merasa bahagia di negeri asalnya, Jerman,  terutama karena ia merasa muak melihat suasana film, tempat ia bekerja. Sebab itu,  tiba-tiba saja dia memutuskan untuk pergi merantau entah ke mana. Dia menawarkan tenaganya sebagai kelasi pada sebuah kapal muatan, dan setelah mengalami pelayaran yang sangat menegangkan sehingga cerita-ceritanya mengenai hal itu sulit dipercaya, secara kebetulan kapalnya merapat di pulau Jawa, lalu diputuskannya untuk melepaskan pekerjaannya sebagai kelasi, dan turun ke darat. Dia sampai di kota Bandung, dan ketika persediaan uangnya mulai  sangat menipis, dia melamar pekerjaan sebagai pemain piano di sebuah bioskop, dan digaji Rp. 80,- sebulan. Dia tidak kerasan sama sekali di Bandung yang dinilainya sebagai kota yang mengerikan (bukan karena dia harus bermain piano di situ!). Untunglah penderitaannya berakhir tidak lama kemudian, sebab dengan tiba-tiba dia mendapat kesempatan untuk pergi ke Yogyakarta. Di situ dia diminta bermain piano dalam orkes kecil di kamar bola (soos) dengan gaji

 yang sedikit lebih besar daripada di Bandung. Setelah kontrak kerjanya habis, dia bingung hendak melakukan apa. Sebetulnya dia masih ingin tinggal lebih lama di Yogya, karena musik Jawa sangat memikatnya. Dan lagi-lagi dia beruntung, sebab dengan sangat kebetulan dia ditawari pekerjaan sebagai pemimpin korps musik milik Sri Sultan Yogya, dengan gaji Rp.100 sebulan dan jaminan hidupnya ditanggung sepenuhnya.
Meskipun pada waktu itu dia mendapat beberapa tawaran pekerjaan lain sebagai pemain piano di berbagai hotel, kelab malam, dan tempat hiburan lain di kota-kota lain di Jawa, dia memilih untuk bekerja di kraton Yogya.Teman-
temannya heran semua karena gaji yang dijanjikan kepadanya oleh  tempat-tempat hiburan tadi jauh lebih tinggi.
Spies bekerja di Kraton Yogya selama empat setengah tahun. Dalam waktu itu,  orkes gesek kecil Eropa di kraton itu yang  mula-mula bermain kurang bermutu,
berhasil diubahnya menjadi orkes simfoni yang mampu mengadakan pagelaran-pagelaran umum di kamar bola dengan memperdengarkan musik gubahan Mozart, Haydn, Beethoven dan Bach. Tetapi seluruh waktu luangnya 
dihabiskannya dengan mempelajari musik Jawa dan menyusunnya menjadi partitur, suatu hal yang tampaknya baru pertama kali dilakukan orang.
Selain itu kadang-kadang dia juga melukis, tetapi jumlah lukisannya tidak banyak. Dia pernah merasa putus asa untuk mengikutsertakan lukisan-lukisannya dalam pameran lukisan di Jawa. Soalnya, pada suatu hari ketika dia
sedang mengadakan turne orkes di Batavia, Kunstkring setempat menyelenggarakan pameran lukisan hasil karya para pelukis Hindia Belanda.
Secara kebetulan dia menonton pameran itu di mana juga dipamerkan tiga atau empat lukisannya sendiri. Dia terkejut karena dia tidak mengira bahwa lukisan-lukisannya itu ada di situ.Ternyata, lukisan-lukisannya sama sekali tidak dibahas oleh para kritikus, padahal karya-karya orang lain dibahas dengan panjang lebar, dan diberi pujian  dengan penuh pengertian. Tidak hanya itu, tetapi badan pengurus Kunstkring mendapat teguran karena dengan sembarangan telah menerima dan memamerkan lukisan-lukisan Spies yang mereka nilai kurang bermutu. Para kritikus itu berpendapat bahwa akibat pameran itu, nama Spies sendiri, yang terkenal di bidang musik, sekarang dirugikan. Menurut mereka lukisan-lukisannya sama sekali tidak orisinil, melainkan jelas-jelas dipengaruhi oleh gambar-gambar Jepang! Besoknya, suratkabar yang sama, memuat pendapat berbagai pihak yang membantah kritik-kritik  tadi. Kemudian pecahlah semacam perang pena menganai lukisan-lukisan itu!

Pada tahun 1927 Spies minta diri dari Kraton, dan berangkat ke pulau Bali. Dan setelah itu pulau itu tidak pernah ditinggalkannya lagi!. Kisah selanjutnya mengenai seniman ini dapat dibaca dalam buku  ‘’Cultureel Indie.’’

Kadang-kadang Walter Spies mengirimkan reproduksi dari lukisan-lukisannya yang baru kepada saya. Biasanya pengiriman itu disertainya dengan keterangan mengenai apa yang telah mengilhaminya untuk melukisnya, dan apa yang tanpa  disadarinya, tampaknya telah memainkan peran dalam lukisan itu.

Print Version/Afdruk Versie